Wilayah Asia Selatan terus menjadi arena konflik perbatasan yang kompleks, dengan sengketa historis, klaim wilayah yang tumpang tindih, dan perbedaan ideologi yang menjadi akar ketegangan. Konflik ini tidak hanya mengancam stabilitas regional tetapi juga menghambat kerja sama ekonomi yang sangat dibutuhkan untuk mengangkat jutaan penduduk dari kemiskinan. Perdebatan mengenai demarkasi perbatasan sering kali memicu insiden militer yang mematikan.
Para analis politik dan sejarah menunjuk pada warisan penjajahan dan proses dekolonisasi yang tergesa-gesa sebagai salah satu penyebab utama garis perbatasan yang tidak jelas. Selain itu, faktor air dan sumber daya alam, seperti kendali atas sungai-sungai penting, juga memperumit sengketa. Masing-masing pihak yang berkonflik terus memperkuat infrastruktur militernya di sepanjang perbatasan.
Upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik ini telah dilakukan selama bertahun-tahun, seringkali tanpa hasil yang signifikan karena kurangnya kemauan politik dan campur tangan kepentingan domestik. Organisasi regional seperti SAARC gagal memainkan peran mediasi yang kuat karena adanya polarisasi antar anggota utamanya.
Untuk mencapai perdamaian abadi, diperlukan langkah-langkah pembangunan kepercayaan yang substansial, transparansi dalam negosiasi perbatasan, dan komitmen untuk menjadikan stabilitas ekonomi regional sebagai prioritas utama, mengesampingkan perbedaan politik sementara. Ini memerlukan peran mediasi yang lebih kuat dari pihak eksternal.
Asia Selatan masih dilanda konflik perbatasan yang berakar pada warisan sejarah, demarkasi yang tidak jelas, dan sengketa sumber daya alam, yang menghambat kerja sama regional dan menuntut adanya langkah-langkah pembangunan kepercayaan serta transparansi dalam negosiasi.

