Setelah masa lockdown, gaya hidup traveling di Asia bergeser dari liburan internasional massal ke pengalaman domestik yang lebih eksklusif dan mendalam. Destinasi Glamping (Glamorous Camping) dan Staycation mewah menjadi sangat populer, menawarkan pelarian yang aman, terpencil, namun tetap memberikan kenyamanan bintang lima.
Glamping menarik bagi kaum urban yang ingin terhubung kembali dengan alam tanpa harus mengorbankan kenyamanan. Tenda mewah yang dilengkapi AC, tempat tidur premium, dan kamar mandi pribadi, seringkali terletak di lokasi yang indah—seperti hutan terpencil di Bali, tepi danau di Jepang, atau pegunungan di Korea—menawarkan pengalaman yang unik dan instagrammable.
Di sisi lain, Staycation mewah menjadi pilihan populer di ibu kota. Hotel-hotel menawarkan paket eksklusif yang mencakup fine dining, layanan spa, dan aktivitas pribadi. Ini adalah cara bagi pekerja keras urban untuk ‘mereset’ mental mereka tanpa menghabiskan waktu dan biaya perjalanan yang lama, mengintegrasikan relaksasi singkat ke dalam gaya hidup yang sibuk.
Tren ini juga didukung oleh fokus baru pada private wellness. Baik glamping maupun staycation mewah sering menawarkan sesi yoga pribadi, makanan sehat farm-to-table, dan kegiatan mindfulness lainnya. Ini sejalan dengan gaya hidup yang memprioritaskan kesehatan mental dan fisik sebagai bentuk investasi diri.
Fenomena Glamping dan Staycation mewah di Asia menunjukkan bahwa konsumen kini mencari travel experience yang berkualitas, eksklusif, dan mudah diakses. Mereka bersedia membayar untuk privasi, estetika yang tinggi, dan kesempatan untuk menjauh dari hiruk pikuk kota tanpa mengorbankan standar hidup yang nyaman.
